Keamanan Online

Penayangan cara membobol ATM menggunakan teknologi “sederhana” oleh para “cracker” terlanjur dilakukan. Pakar security dalam tanyang tersebut mempraktekkan pengambilan uang secara ilegal menggunakan kartu atm bodong hasil duplikasi kartu korban menggunakan alat skimmer dan nomer PIN korban yang sudah diketahui dengan cara memasang kamera di booth ATM yang tidak dijaga sehingga dengan mudahnya para pembobol tersebut mengetahui PIN korban, sayangnya sang pakar tidak menjelaskan kenapa bisa terjadi , siapa yang bertanggung jawab dan cara pencegahan yang mudah dan gamblang kepada publik , sehingga tayangan tersebut dengan mudah dijadikan bahan untuk “sinetron kejar tayang” oleh orang lain.

Transaksi yang dipaktekan oelh pakar IT security tersebut oleh mesin ATM dianggap legal karena sudah memenuhi syarat dalam program keamanannya , meskipun sebenernya yang mengambil bukan pemilik rekening yang sah, kenapa bisa demikian ?

Seperti kita ketahui , keamanan pada media digital yang terhubung satu sama lain yang sering kita sebut online seperti internet dan ATM sangat bersandar pada 3 W, yaitu : 1. What do you know ? ( passwd, PIN ) 2. What do you have ? ( Kartu ATM ) 3. Who are you ? ( finger print , retina mata)

Untuk memastikan apakah benar anda adalah pemilik yang sah dari account yang anda masukan , biasanya pemberi layanan email seperti yahoo/ gmail hanya menanyakan passwd anda, dan setelah itu anda dapat mengakses informasi dalam account tsb., layanan tersebut hanya bersandar pada “what do you know ?”, pertahanan email account pada layanan gmail, yahoo dan lain sejenis hanya mengandalkan 1W yaitu “What do you know ?”. Ini membuat layanan ini sangat rentan untuk ditembus.

Sedangkan layanan ATM sendiri sebenernya sudah menggunakan pertahanan ganda/ 2W , untuk dapat mengakses layanan yang ada di mesin ATM tersebut , pengguna harus mempunyai kartu ATM yang membawa informasi digital dalam pita magnetnya , dan password / PIN yang valid dan cocok dengan info pada kartu , mekanisme menggunakan 2W tersebut sebenernya sudah cukup aman. Sayangnya alat untuk menduplikasi informasi tersebut ke kartu lain dapat dengan mudah didapat di pasaran , bahkan dengan harga yang cukup terjangkau, dan yang mengherankan mesin ATM dapat menerima kartu dari manapun , tidak ada mekanisme untuk pengecekan bahwa kartu ini dikeluarkan dari institusi perbankan atau bukan , dengan kata lain kartu magnetik untuk bermain di time zone bisa dimasukkan dan dibaca , asal informasi dalam pita magnetik tersebut sesuai, inilah salah satu keblunderan bank yang tidak memperhatikan bahwa sebenernya kartu yang dimilikinya tidak unik dan dengan mudah diduplikasi oleh orang lain, sehingga menghilangkan pertahanan “what do you have ?” -nya.

Tinggal 1W lagi yang perlu ditembus oleh pembobol ATM , cara yang paling mudah adalah dengan meletakkan kamera di dalam booth ATM , akibat expansi yang agresif , penyedia ATM tidak lagi memperhatikan SOP perawatan dan pengecekan rutin , lebih mengutamakan pemasangan baru, hal ini memudahkan para hacker untuk memasang “perlengkapan tambahan” tersebut selama mungkin semakin lama semakin banyak korban yang terlihat PIN-nya sehingga lebih leluasa memilih korban. Praktek “Visual Hacker ” (nge-hack passwd dengan cara melihat /visual) saat ini menjadi mudah karena banyak kamera wireless yang dijual di pasaran.

Jadi apakah perlu menambah 1W ( “who you are ?”) lagi untuk membuat ATM lebih aman ? , dengan memasang scanner finger print disetiap mesin ATM adalah ide yang baik juga , tetapi pihak penyedia harus melakukan investasi yang tidak sedikit yang pastinya akan dibebankan ke pengguna , belum lagi pengguna menjadi lebih sulit / rumit karena seperti kita ketahui , alat scanner biasanya memerlukan syarat lain , seperti jari yang tidak terkena debu agar tidak salah menditeksinya atau disimpan di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung misalnya yang belum tentu dapat diberikan oleh booth ATM, hal ini membuat solusi menambah 1W lagi menjadi lebih rumit dan lebih mahal, meskipun menjadi lebih aman karena untuk menduplikasi finger print / retina mata misalnya bukan pekerjaan yang ringan.

Maksimalkan 2W yang ada di keamanan ATM saat ini adalah ide yang masuk akal, pada sisi penyedia jasa, seperti penjelasan di atas , harus membuat “what are you have” / kartu ATM menjadi exclusive dan tidak “kacang” sehingga untuk melakukan duplikasi menjadi lebih susah. Hal ini dapat menghambat pembobolan dan apabila terjadi pun dapat dengan mudah dilacak karena mengedar dengan no seri tersebut sudah terdaftar pada distributor kartu misalnya. Selain itu di sisi pengguna, sangat bertanggung jawab terhadap “what do you know” , password / PIN tidak boleh di kasih kesembarang orang , dan untuk mencegah apabila ternyata terkena “visual hacker” , pastikan untuk secara regular untuk menganti PIN , baik itu sebulan sekali / per 6 bulan , para pembobol tidak dapat lagi menggunakan PIN tersebut , cara ini cukup efektif untuk mengurangi resiko terkena pembobolan .

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Captcha
Enter the letters you see above.

Secured for spam by MLW and Associates, LLP's Super CAPTCHASecured by Super-CAPTCHA © 2009-2010 MLW & Associates, LLP. All rights reserved.

Switch to our mobile site